Marilah Kita Bercita
Written on 27 August 2008 – 3:49 pm | by Tedy
Aku menuliskan kata - kata ini dalam margin - margin pikiranku. Membuka semua rasa yang sempat tersimpan rapi, membuka semua pintu hati yang dulu terkunci, dan membongkar semua rahasia yang pernah tersembunyi dalam dada ini. Masih kudengarkan pelan, rintihan semak belukar yang tercabut dari akarnya. Menghembuskan kesedihan yang memenuhi seluruh relung dalam tulang rusukku. Masih kulihat pula, suara tangisan sepi bintang yang terbuang dalam pekatnya zaman.
Telah kutitipkan seluruh akal dan jiwa yang dulu masih tersisa. Telah kujelajahi pula seluruh penjuru bumi. Dan telah kuselami setiap inchi samudera yang luas terbentang. Kini ku lelah, harus berlarian kesana - kemari. Namun, ternyata semua itu hanya untuk sesuatu yang tidak pasti dan tidak berarti. Sungguh mati, semua itu adalah kesia - sian belaka yang tak bermakna.
Suatu ketika ku sampai di ujung gelisahku, tanpa pernah kusangka sebelumnya, aku bertemu dengannya. Seorang gadis yang sekian lama telah tak kulihat parasnya. Gadis yang kecantikannya tak pernah mampu disembunyikan meskipun oleh seluruh jin dan manusia. Yang senyumannya tak akan pernah pudar meskipun ditelan zaman. Dan yang pesonanya selalu mampu mempesona seluruh jagad raya dan segala isinya.
Tahukah kau, duhai Sahabat hati. Siapakah gadis yang telah membuatku jatuh hati ini? Sungguh, ini adalah rahasia diantara kita berdua. Jangan pernah mengungkapkannya pada siapapun. Karena dia sangatlah pemalu dan anggun. Dia tiada duanya di dunia ini.
Gadis itu bernama Ramadhan. Marhaban Ya Ramadhan. Selamat datang duhai Ramadhan tercinta, setelah sekian lama engkau meninggalkanku sendirian. Sekarang kuingin melepas seluruh rinduku bersamamu. Marilah kita bercinta. Melepaskan seluruh rasa yang sekian lama telah tertunda.