Meramal Nasib
Written on 29 August 2008 – 10:48 am | by Tedy
Sehabis shalat isya’, seperti biasa saya menyalakan radio jadul yang ada di kos saya. Ga ada pilihan lain untuk mendapatkan informasi dan hiburan di situ selain dari radio itu. Maklum, hanya itulah sumber informasi dan hiburan yang saya punya.
Waktu itu, si penyiar sedang membawakan acara ramalan buka kartu yang memang menjadi acara mingguan dari stasiun radio tersebut.
Dalam acara tersebut, dilakukan interaktif antara peramal dengan pendengar baik melalui sms maupun lewat telepon. Biasanya penelpon atau pengirim sms akan menanyakan masalah pribadinya mulai dari soal asmara, usaha, keuangan, kesehatan dll. Lalu kemudian sang peramal , memberi jawaban dari permasalahan yang dihadapi oleh penanya. tentu dengan sebelumnya membuka - buka kartu tarot yang dimilikinya.
Lucunya, tidak hanya masalah - masalah umum yang ditanyakan di acara itu, namun masalah - masalah pribadi - yang sebenarnya (menurut saya) tidak perlu ditanyakan - juga di tanyakan dalam acara itu. Seperti, pada edisi kemarin, saat penanya menanyakan tentang cowok mana yang seharusnya dia pilih menjadi pacarnya? Kemudian ada juga pertanyaan demikian
Jika saya lulus nanti, sebaiknya saya nerusin kuliah, atau langsung kerja? Jika kuliah, saya cocoknya berkuliah dimana? Jurusan apa?
Bagaimana dengan pekerjaan saya? apakah saya akan tetap bekerja di sini? atau berwirausaha?
Mendengar pertanyaan - pertanyaan semacam ini saya hanya heran dan geleng - geleng kepala. Apalagi setelah memperhatikan bahwa begitu antusiasnya respon yang masuk, meskipun acara tersebut selalu hadir setiap minggu.
Memang menarik jika kita bisa mengetahui apa yang akan terjadi di esok hari. Karena itulah ramal - meramal menjadi sebuah fenomena tersendiri di negeri ini. Surat kabar harian, tabloid ataupun majalah mingguan tidak pernah ketinggalan untuk menyajikan rubrik zodiak. Bahkan kebanyakan kita ( termasuk saya sendiri ) menjadikan rubrik ini menjadi prioritas utama untuk kita baca. Masalah apakah ramalan itu benar atau tidak itu sih urusan lain. Namanya juga iseng!!
Tiap tahun juga begitu, stasiun - stasiun televisi berbondong - bondong mendatangkan para peramal “terkenal” untuk memberikan ramalannya tentang keadaan politik, sosial, ekonomi, dan sebagainya yang akan terjadi di negeri ini pada setahun kedepan. Apapun hasil ramalannya, tentu tetap menarik untuk diperdengarkan. Dan sebagian kita pasti mengingatnya, dan mencoba mencocokkan dengan yang terjadi nanti, apakah ramalan tersebut terbukti atau tidak.
Yang menakutkan adalah jika ramal - meramal ini sudah menjadi hal yang serius dan bukan hanya sebagai sekedar perbuatan iseng belaka. Mungkin hal ini disebabkan oleh ketidakpercayaan diri orang tersebut dalam menjalani hidup ini, dan hanya mendasarkan hidup ini pada garis nasib. Mereka hidup yang hanya mendasarkan nasib boleh diibaratkan bak menebak bayi dalam kandungan. Jadilah hidup ini sebagai sebuah spekulasi yang tak masuk akal. Akibatnya terjadilah kebiasaan mengundi nasib dengan perjudian atau mendatangi tukang ramal.
Sebagai orang yang beriman tentu kita harus percaya bahwa nasib dan rejeki itu berada dalam kekuasaan Allah. Namun di sisi lain kita harus ingat bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum jika kaum itu sendiri tidak berusaha mengubahnya sendiri. Jadi sungguh ironis, jika kadang - kadang ada orang yang hanya berlindung pada takdir Allah namun dirinya enggan berusaha. Mereka mungkin lupa atau belum paham betul apa yang dimaksud dengan Takdir Allah, sehingga anggapan yang salah ini malahan melemahkan jiwa mereka.
Hidup yang penuh spekulasi akan menimbulkan kekhawatiran pada diri kita, sedang menurut agama “Rasa khawatir adalah pertanda lemahnya iman”. Banyak sekali orang yang stress, dan karena cemas atau khawatir yang berlebih - lebihan yang mungkin ini bisa disebabkan karena kita kehilangan apa yang disebut keyakinan, baik keyakinan pada diri sendiri maupun keyakinan atas campur tangan Allah dalam hidup kita.
Jika keyakinan dalam hati lenyap, maka ini menimbulkan rasa rendah diri dan tidak berdaya sama sekali. Hatinya selalu saja khawatir akan nasibnya yang dianggap tidak menentu. Dia selalu was - was dalam menyongsong hari esok, kecemasan demi kecemasan yang tak beralasan datang menghantui silih berganti. Ini akhirnya akan mendorong orang ke sebuah lingkaran rasa takut.
Untuk menghilangkan semua perasaan khawatir, was- was dan semacamnya yang pada akhirnya hanya mendekatkan kita pada syirik, kita harus yakin bahwa Allah telah membagikan rejekinya kepada kita semua. Bukankah semua makhluk dari gajah sampai sekecil amoeba telah mendapatkan jaminan dari Allah berupa rejeki? Apalagi kita sebagai manusia yang dianugerahi akal dan pikiran serta potensi yang luar biasa maka tentu rejeki akan mudah diperoleh, lalu untuk apa mempercayai kartu?
“Dan tiada suatu hewan melata di bumi ini, kecuali telah dijamin rejekinya oleh Allah. Dan Dia mengetahui pasti tempat tinggal/kediamannya, serta tempat penimbunannya. Semuanya ditulis dalam kitab yang nyata yaitu Lauhl Mahfudh”
QS. Hud : 6
Setelah kita berusaha dengan keyakinan diri hendaknya juga diiringi dengan tawakkal sehingga tidak ada rasa khawatir dan was - was yang meracuni dalam hati.
Dan Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, pasti Allah mencukupi keperluannya.
QS. Ath Thalaq :3
Yah, semoga tulisan saya yang ngaco ini
bisa bermanfaat untuk mengingatkan diri saya sendiri, dan semoga saja orang lain juga merasa diingatkan, Namun jika tidak, juga tidak mengapa.
Tags: agama, Islam, keyakinan, opini, puasa, Ramadhan, ramalan, sua, tarot, tukang ramal
4 Responses to “Meramal Nasib”
By unduk on Aug 29, 2008 | Reply
Rubrik/spot ramal-meramal memang telah lama jadi area abu-abu di indonesia. Abu-abu karena meskipun telah jelas-jelas musyrik, kita seperti sama sekali tidak berdaya melarangnya. Praktis kegiatan mereka sama sekali tidak melanggar hukum NKRI yang manapun.
Semoga Allah memberi kita kekuatan untuk tetap mempertahankan nikmat iman yang telah Allah berikan. Amiiin.
By Tedy on Aug 29, 2008 | Reply
@unduk
amin….
By ma2nn-smile on Aug 30, 2008 | Reply
waduh ati2 aja ama yg namanya meramal nasib….cz dilarang agama lho….
keep smile aja deh….
By alin on Sep 5, 2008 | Reply
gw suka ramalan, apalagi ramalan cuaca biar tau hari ini bisa jemur baju apa gak